Senin, Februari 01, 2010

Mualimin, Sang Pengantin

*Tentang P2SEM Jawa Timur

Satu persatu kasus P2SEM (Program Penanggulangan Sosial Ekonomi Masyarakat) di Jawa Timur, terungkap penyelewengannya. Rata-rata dari penyelewengan itu juga melibatkan wakil rakyat kita yang terhormat. Salah satu dari sekian banyak kasus dugaan korupsi yang terjadi dalam program ini adalah pengadaan 350 unit komputer untuk 50 lembaga penerima hibah yaitu Mualimin.
Tapi ada yang janggal menurut saya yang mengikuti persidangan kasus ini karena ada hal yang sepertinya sengaja ditutupi oleh Mualimin. Seperti dalam sidang pada Senin 11 januari lalu dimana Mualimin yang tinggal di Perumahan Gading Fajar A 03/02 RT.16 RW.05 Siwalanpanji Kec. Buduran, Sidoarjo, ini lebih banyak menggeleng dan menjawab tidak tahu (bungkam-red).
Termasuk saat majelis hakim bertanya aliran dana masing-masing Lembaga Penerima Hibah (LPH), Mualimin mengaku dirinya mengambil Rp 2 juta untuk operasional sati setiap proposal. Tapi tentang selisih harga per unit komputer yang mencapai Rp 4,3 juta ini, Mualimin tidak bisa menjelaskan. Hanya saja, dalam sidang itu, Mualimin hanya menjelaskan ke empat anggota DPRD Jawa Timur yaitu Renvile Antonio, Revo Hernandus, Ahmad Subhan dan Suhartono, hanya sebatas lisan saja.
Pengakuan ini juga ditegaskan oleh M Afif, staff pimpinan DPRD Jawa Timur yang Kamis 19 November 2009 lalu juga dihadirkan sebagai saksi. Di depan sidang, Afif menjelaskan dari 52 proposal yang diterima melalui Mualimin, adalah hasil dari rekom 4 anggota DPRD yaitu Renvile Antonio, Revo Hernandus, Ahmad Subhan dan Suhartono. Ini dibuktikan dengan sebelum kedatangan Mualimin membawa proposal, keempat anggota dewan yang terhormat itu menghubungi Afif terkait rencana kedatangan Mualimin.
Dari 52 proposal yang dibawa Mualimin tersebut kemudian oleh Afif diteruskan ke Bappemas (Badan Pemberdayaan Masyarakat) yang kemudian disetujui 50 penerima dana hibah. “Yang dua tidak disetujui tapi saya tidak tahu kenapa. Tugas saya adalah begitu menerima proposal dari terdakwa, langsung saya teruskan ke Bappemas,” terang Afif.
Dari rangkaian ini, jelas –seharusnya- 4 anggota dewan yang terhormat tersebut juga dihadirkan dan patut disangka terlibat dalam pembobolan uang negara tersebut. Nyatanya, penegak peradilan bergeming dan membiarkan pengakuan di bawah sumpah tersebut menguap terbawa angin tanpa tidak lanjut. Jangannya dijadikan tersangka kasus yang sama, dipanggil dan dimintai keterangan pun, tidak.
Melihat sikap Mualimin yang pasang badan, saya jadi ingat tentang ‘pengantin’ dalam aksi kejahatan. Pengantin di sini jelas bukan orang yang baru saja menikah, tapi lebih pada orang yang menyediakan diri untuk menanggung semua kesalahan yang dilakukan orang lain. Pengantin ini juga sempat mencuat lagi saat bom mengguncang 2 hotel di Jakarta, Juli 2009 lalu. Disebutkan, dua orang yang tewas dalam aksi bunuh diri tersebut juga disebut dengan pengantin atau dalam istilah –teroris- disebut ihwan.
Pengantin juga kadang berlaku pada aksi pembunuhan yang menjadi tradisi salah satu golongan di Jawa Timur. Aksi membunuh dengan senjata tradisional ini juga beberapa kali diwarnai dengan munculnya pengantin dalam kejadian tersebut. Pengantin dalam pembunuhan ini, bisa jadi malah orang yang tidak terlibat sama sekali dengan pembunuhan tersebut.
Sedang untuk kasus itu, Mualimin –menurut keyakinan saya- tetap melibatkan keempat anggota dewan tersebut. Banyak hal yang membuat saya tetap yakin dengan keyakinan tersebut. Pertama, melihat besarnya uang negara yang dikeruk yaitu mencapai Rp 2,28 M, jelas bukan hanya peran Mualimin seorang dengan format proposal ala kadarnya. Kedua, dari 52 proposal yang diajukan (kemudian disetujui 50 Lembaga Penerima Hibah) kesemuanya mencantumkan Mualimin sebagai pengurus inti yaitu sebagai bendahara atau sekretaris. Ketiga, sekarang Mualimin juga tidak sangat kaya. Padahal, dari aksi ini, Mualimin berhasil mengeruk uang negara sebesar Rp 2,28 M.
Yang lebih penting lagi adalah, siapa sih Mualimin? Dia hanya kader salah satu partai saja, bukan pejabat, bukan anak pejabat juga bukan orang yang bergelar. Tapi dengan 50 proposal sederhana, Mualimin berhasil membuat Bappemas ‘terbuai’ dengan pengajuan pengadaan 7 unit komputer pada setiap Lembaha Penerima Hibah tanpa curiga.
Anda percaya, orang seperti Mualimin dengan mudah membuat lembaga yang mengucurkan dana miliaran rupiah dengan gegabah menyetujui proposal-proposal yang diajukan? Kalau saya, jelas tidak percaya kalau tidak ada campur tangan orang berpengaruh –termasuk 4 anggota DRPD Jatim- yang sempat terungkap dalam sidang. Ini menurut saya, Mualimin bukan siapa-siapa. (*)

Minggu, Oktober 04, 2009

Bencana itu (Mungkin) Harus Tetap Ada

Beberapa hari lalu, kita kembali diguncang bencana nasional. Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR, mengunang Sumatera Barat. Bencana yang terjadi tepat saat kita mengenang satu sejarah dalam bangsa kita, Gerakan 30 September/PKI ini menewaskan ratusan saudara kita setanah air. Jutaan dari kita meneteskan airmata berkabung.
Jutaan orang diantara kita juga merogoh saku untuk mewujudkan kepedulian mereka atas musibah ini. Bencana gempa ini bukan satu-satunya bencana yang terjadi di negeri tercinta ini. Banyak sudah bencana yang juga membuat banyak orang menjadi janda, duda, yatim atau malah yatim piatu. Beberapa dari kita akhirnya menjadi sebatangkara akibat bencana alam tersebut.
Lalu, mengapa bencana alam selalu terjadi di negeri yang katanya subur makmur gemah ripah loh jinawi ini?
Jawabannya sangat beragam. Mulai dari alam yang sudah bosan sampai dengan Tuhan yang murka dengan ulah kita (manusia). Tapi tetap boleh punya pendapat yang berbeda. Termasuk saya, salah satu contohnya.
Bencana memang (harus) tetap ada. Sampai kapanpun, bencana akan terus ada. Mulai dari gempa, banjir atau pun tsunami yang akhirnya menjadi akrab di telinga kita. Mengapa bencana (harus) tetap ada?
Ini karena hanya inilah satu-satunya cara agar kita menghentikan egoisme kita dan mengalihkan sejenak pandangan kita dari kerajaan bisnis yang kita miliki, kita bangun atau yang sedang kita pertahankan. Dengan bencana ini (dan bencana yang lainny), banyak diantara kita akhirnya terhenti mengejar ambisi kita masing-masing dan bahu membahu membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana tersebut.
Bencana itu akan membuat banyak pihak kembali peduli dengan sesama. Saya yakin, para pelaku bisnis atau pun pelaku pemerintahan tidak akan menengok aatau terpikir mereka bila semua baik-baik saja. Benar?
Ada yang mengatakan bencana berkaitan erat dengan dosa yang diperbuat manusia. Menurut saja tidak. Kalau pun harus ada urutan yang layak menerima azab tentu dimulai dari pemilik majalah playboy, penhouse atau media porno lainnya. Atau kalau mau yang lebih lokalan lagi, tentu lokalisasi Jarak di Surabaya (katanya terbesar di Asia Tenggara) ini yang akan menerimanya. Tapi buktinya, kendati uang yang beredar di areal pelacuran tersebut sangat besar dan luar biasa. Buktinya di sana baik-baik aja. Malah sangat baik..
Tentu untuk pertanyaan ini, hanya Tuhan yang menjawab. Mengapa Dia memilik Padang sebagai lokasi gemba dan bukan yang lain (Jarak, termasuk). Hal tersebut sangat misteri semisteri kehidupan itu sendiri.
Sedang untuk saya? SANGAT YAKIN ANDA TETAP PEDULI DENGAN SAYA, TANPA SAYA HARUS MENGALAMI BENCANA. Benar?

Senin, September 28, 2009

Sebuah Kroni Baru

Beberapa hari setelah lebaran, saya bertemu dengan teman SMA dulu. Sudah 17 tahun sejak kami berpisah di tahun 1992, kami akhirnya bertemu. Banyak perubahan diantara kami walaupun kami tetap saling mengenali.. perbedaan pada kami antara dulu dan sekarang, yang laki-laki semakin banyak tumbuh rambut di tubuhnya atau malah berkurang karena sebagian sudah nampak botak. Sedang yang perempuan, kebanyakan adalah tambah lemak di beberapa bagian tubuhnya.
Kendati demikian, tidak ada yang berubah tentang keakraban kami. Kami tetap saja bertingkah dengan kekonyolan anak SMA walaupun kami sadar sesadar sadarnya kalau kami membawa serta anak dan istri kami.
Tentang pekerjaan? Jelas kami sudah banyak berbeda. Ada yang tetap menjadi petani karena memang ayahnya punya tanah sawah yang luas. Ada yang meneruskan usaha rokok milik ayahnya. Ada yang menjadi pegawai bank. Ada yang istri kontraktor dan doyan makan. Ada yang membuka warung dan masih banyak lagi pekerjaan. Kalau saya? Tetap sebagai wartawan kriminal di surabaya.
Saya kemudian membayangkan sebuah kroni yang dulu pada tahun 1998 digulingkan oleh mahasiswa. Ya… kroni Suharto yang disebut-sebut sebagai penyebab kemunduran demokrasi di Indonesia. Tapi saya merasa saya dan teman-teman saya bisa jadi kelak akan membentuk sebuah kroni baru. Sebuah kroni yang pada akhirnya –mungkin- akan dianggap sebagai biang kemunduran sesuatu di negeri ini.
Bayangkan saja cerita yang masih ada di dalam bayangan saya. Tidak menutup kemungkinan kalau apa yang masih dalam bayangan itu akan terjadi di dunia nyata. Apakah itu bayangan yang ada di benak saya tentang calon sebuaah kroni…?
Bayangan itu bermula dari teman saya yang menjadi petani. Semua kebutuhan pupuk dan bibit akan dibeli dari koperasi unit desa (KUD) yang dikelola oleh teman saya. Setelah panen, hasilnya akan dijual kepada dolog yang juga ada teman saya di sana. Hasilnya, beras pun akan dikulak oleh teman saya yang pedagang dan dijual lagi kepada teman saya yang membuka warung.
Pembelinya? Tentu saja teman saya yang menjadi istri kontraktor dan jago makan itu. Lalu kalau kemudian sang istri kontraktor tersebut kekenyangan kemudian sakit, ada teman saya yang menjadi dokter siap membantu menyembuhkannya. Obatnya, tentu saja beli di apotek milik teman saya juga.
Lalu peran saya dalam kroni itu apa?
Saya berperan saat petani, pegawai dolog, pengelola KUD, pemilik toko beras, pemilik warung makan, dokter, pemilik apotek yang bukan teman saya, stres lalu bunuh diri atau menjadi bandit jalanan. Di saat-saat itulah, saya baru berperan dalam kroni tersebut karena saya adalah WARTAWAN KRIMINAL.