Beberapa teman saya yang awalnya mengetahui kebiasaan
tak lazim ini, penasaran dan menanyakan kepada saya. Mereka mendesak beberapa
kali hingga saya pun harus menjelaskan kepada mereka, tentang apa yang membuat
saya mengganti dompet di saku kanan ke saku kiri.
Malah untuk menggambarkan semuanya, saya harus
mempraktekkan cara pencopet beraksi. Secara teori, saya memang bisa
mempraktekkan cara mencopet. Tapi secara nyata, saya tidak pernah mempraktekkan
karena memang aksi copet sangat jarang dilakukan secara mandiri atau perorangan.
Dari beberapa pengalaman wawancara dengan para
pencopet dan beberapa kali meminta mereka memperagakan cara beraksi, saya
kemudian mengambil keputusan mengganti lokasi dompet saat mengenakan celana
jeans. Dari pengalaman, saya belum pernah melihat copet yang kidal. Hampir semuanya
selalu beraksi dengan tangan kanan.
Dari peragaan yang dilakukan para pencopet di depan
saya, ada dua cara mengeluarkan dompet dari saku sebelum kemudian diambil dan
dioper ke komplotan lain. Cara pertama adalah mendorong dompet dengan lutut dan
satunya dengan tangan kiri.
Setelah dompet nongol dan cukup untuk ditarik, pencopet
akan melibatkan komplotannya untuk mengalihkan perhatian korban dengan memepet
atau pun mendorong. Saat itulah, dengan kecepatan tangan yang terlatih, dompet
korban bisa diambil dan dioper ke komplotan lain guna menghilangkan jejak. Dalam
aksinya, komplotan pencopet melibatkan antara 3-4 orang untuk mengoper hasil
copetan sekaligus menyamarkan barang bukti.
Dua cara mengeluarkan dompet baik dengan dorongan lutut
ataupun dorongan tangan, dilakukan dalam posisi pelaku beriringan di belakang
korban. Artinya, -normalnya- karena posisi dompet di kanan, pelaku bisa beraksi
tanpa terlihat karena tertutupi dengan badannya. Hal ini akan berbeda dengan bila
posisi dompet di sebelah kiri. Tentu pelaku akan mencolok bila memaksakan diri
mendorong dompet korban dengan lutut kanan ata pun dengan tangan kirinya.
Posisi dompet korban yang ada di sisi kiri dan posisi pelaku yang menyerong,
akan membuka aksi tangannya terlihat.
Tentu ini resiko yang tidak bisa diambil oleh pelaku. Seandainya
para pelaku memaksakan diri hendak mencopet, tentu dia butuh 1 komplotan lain
yang berdiri di belakang korban. Tugas komplotan tersebut hanya untuk menutupi
aksi tangan sang eksekutor copet.
Apakah saku kiri benar-benar aman dari pencopetan? Sebenarnya
tidak juga sih. Di keramaian konser musik, aksi copet lebih beragam. Saat
konser musik yang disesaki penonton, saku kiri saku kanan tetap saja rawan.
Malah di keramaian ini, tas yang tertutup dan menempel di badan ku, bisa
kebobolan.
Biasanya, pencopet yang memanfaatkan keramaian massal ini
malah melengkapi diri dengan cutter. Bukan untuk mengancam korban tapi lebih
pada merobek tas korban yang diperkirakan berisi barang layak copet. Biasanya, korban
copet di konser ini, kebanyakan terlihat menerima telepon atau sempat terlihat
memasukkan dompet atau sarana komunikasi ke dalam tasnya.
Aksi menyimpan ini terlihat komplotan copet di
dekatnya dan mereka pun segera beraksi. Mengepung korban, mengalihkan
perhatian, merobek tas dan mengambil incaran baik HP maupun dompet. Setelah berhasil,
mereka mengoperkan hasil jarahan beberapa kali ke komplotannya kemudian
berpencar tapi tidak berjauhan.
Setelah melihat calon korbannya lagi, mereka kembali
beraksi yaitu mengepung korban, mengalihkan perhatian, merobek tas dan
mengambil incarannya. Aksi tersebut akan dilakukan beberapa kali selama konser musik
atau pertunjukkan massal. Tidak banyak aksi copet yang memanfaatkan keramaian
massa ini yang tertangkap.
Ini karena mereka melibatkan banyak sindikat dan
barang bukti dioper beberapa kali. Bisa jadi, saat korban menyadari kehilangan
dan teriak, dompet atau HP nya sudah berada jauh darinya. Dioperkan ke beberapa
komplotan hingga pelaku yang bertindak sebagai eksekutor, tidak kedapatan
membawa BB alias barang bukti. Sedikit pencopet yang berhasil tertangkap karena
memang BB sudah menghilang alias dioperkan. Kecuali aksinya tertangkap tangan dan BB masih
belum sempat dioper ke pelaku lain.
Hanya saja, ada yang sedikit mengganjal saya bila
mengingat kebiasaan menyelamakan dompet di saku kiri celana jeans. Saat saya
memulai keputusan menyematkan dompet di saku kiri, ada tulisan investigasi
sebuah harian di Surabaya. Saat itu dalam tulisan bersambung selama satu minggu,
mengulas geliat gigolo di Surabaya.
Dalam tulisan tersebut, dikupas mulai dari cara
transaksi gigolo, tempat mangkal, tarif serta seabreg hal-hal lainnya terkait
dunia gigolo, penjaja pemuas birahi untuk para wanita kesepian dan butuh hiburan.
Kebetulan karena memang materinya menarik, saya mengikuti tulisan tersebut
sejak seri pertama.
Tapi menjelang seri terakhirnya, media tersebut mulai
membahas ciri-ciri atau kode yang digunakan gigolo dan untuk acuan para tante
girang mengirimkan ajakan kencannya. Beberapa kode yang dipakai gigolo saat itu
adalah menetakkan rokok berdiri di atas meja bila sedang duduk di café,
mengenakan cincin di jari tertentu, menyelipkan sapu tangan di saku depan
celana jeans dan……. menyematkan dompet di saku belakang kiri celana jeans yang
dikenakan.
Kendati demikian, karena pertimbangan keamanan diri
sendiri, saya tetap memutuskan meneruskan tradisi baru tersebut yaitu
menyematkan dompet di saku kiri. Toh seandainya disangka gigolo, tidak terlalu
merugikan bagi saya.
Hmmm… tidak terlalu merugikan memang. Atau bisa-bisa
malah bisa lebih menguntungkan. Bayangkan seandainya ada …. yang masih melihat
dompet kiri saya kemudian menghampiri dan mengajak ….. Mana bisa saya menolaknya?
(*)
1 komentar:
Saya juga bang..dr dulu saya pertama kali punya dompet ..sebelah kiri terus saya narokvnya..kaya nya lebih enak aja nyaman klubsebelah kanan kaya ganggu gtu pas duduk..
Posting Komentar