Pemilu memang tradisi lima tahunan republik ini. Saya sendiri sudah 4 kalian mengalami pemilu yang katanya langsung, umum, bebas dan rahasia. Seperti yang terjadi di tahun ini, 2009, pemilihan langsung kembali digelar sebagai tanda bila kekuasaan ada di tangan rakyat (walau akhirnya, kebijakan tidak memihak kepada rakyat).
Terlepas dari sistem baru yang diterapkan KPU (komite Pemilihan Umum) yang merubah cara memilih dari mencoblos (dengan paku) menjadi contreng alias cawang alias centang (v), pemilu adalah pesta rakyat dalam arti yang sebenarnya. Saat ini adalah saat yang tepat untuk rakyat mendapat perhatian. Lihat, baca dan dengar dari pemberitaan media massa tentang sikap manis para caleg kepada pemilihnya (kebaikan mereka tergantung dengan dapil sang caleg dan tempat tinggal sang rakyat).
Ada caleg yang tiba-tiba peduli dengan pedagang kali lima, orang tua yang sakit atau pun ibu yang hendak melahirkan. Ada juga caleg yang sangat tiba-tiba peduli dengan pendidikan dan menjanjikan pendidikan murah serta bermutu, kesehatan gratis –tentu janji mereka bila terpilih-.
Tapi setiap kali pemilu datang, saya ingat dengan adik sepupu saya yang sekarang sudah kuliah dan tinggal bersama ibu serta adiknya di Jogja. Ibu (tante saya) dan bapaknya adalah orang yang merasa benar-benar diuntungkan dengan adanya pemilu. Dari pemilu tersebut, mereka dipertemukan Tuhan dalam perkawinan walaupun setelah lahir dua anak dari kisah kasih mereka, sang ayah harus berpulang dalam kecelakaan.
Saya sendiri tidak ingat pemilu tahun berapa, mereka dipertemukan di panggung kampanye. Memang, tahun itu, sang ayah (namanya Arief) adalah pegawai Solohilir (yang mengurusi Bengawan Solo) dan sang ibu (namanya Dewi) adalah tenaga honorer di Departemen Penerangan. Asal anda tahu, saat itu PNS adalah salah satu organ pendukung Golkar untuk memenangkan pemilu. Keduanya (Arief dan Dewi) pun dijadikan jurkam walaupun mereka saat itu bukan caleg.
Tapi saya ingat nama unik anak pertama mereka hasil dari perkawinan berkah pemilu tersebut. Nama anak pertama mereka yang juga adik sepupu saya adalah ARDEMA LITA MAHADAR PRESWARI. Nama yang luar biasa indahnya. Kami (keluarga saya) sempat kagum dengan nama yang indah tersebut dan mencoba mencari artinya.
Dari hasil korek sana dan korek sini (termasuk kepada ayah dan ibu) dari pemilik nama yang cantik tersebut. Kami sempat tersenyum setelah tahu artinya. Saya sendiri juga bertaruh, anda akan tersenyum bila tahu arti nama yang indah tersebut. Demi Tuhan, arti dari nama itu adalah ARDEMA (Arief Dewi Maret – anak dari Arief dan Dewi yang lahir di bulan Maret) LITA (dari kata Repelita-Rencana Pembangunan Lima Tahun) MAHADAR (Lima, Harto (dari Suharto), Darmono (dari Sudarmono) – Lima itu adalah angka untuk Repelita yang biasa digunakan dalam Orde Baru) dan PRESWARI (Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia). Sekarang, tolong bantu saya untuk mengingat, tahun berapa pemilu untuk repelita lima?
Hari ini banyak dan seluruh isi dunia merayakan valentine days alias hari kasih sayang. Budaya barat ini tidak diketahui kapan masuknya dan sudah beberapa tahun belakangan ini menjadi kegiatan serentak oleh anak muda.
Moment ini juga banyak digunakan tempat hiburan untuk menarik pengunjung dalam kemasan khusus. Di hari ini, seakan-akan warna pink atau merah muda menjadi warna teristimewa. Malah Satlantas Polwiltabes Surabaya juga menggunakan moment serba pink sebagai salah satu cara meningkatkan pelayanan. Para petugas pada hari itu mengenakan baju warna pink. Senyumnya, jangan ditanya... jaaaauhhhhhhh lebih manis walaupun pada hari biasa juga tetep manis juga.
Sepanjang hari ini, di tengah kesibukan saya mencari berita, di sepanjang jalan, terlihat pajangan serba pink atau merah. Mulai dari bunga mawar atau boneka dijual dengan kemasan yang menarik. Malah, sebatang coklat yang jelas-jelas berwarna coklat pun dipaksa dijadikan pink dengan melilitkan pita atau boneka lucu.
Di hari serba pink ini, harga bunga mawar mencapai puncaknya. Sebatang bunga penuh duri ini dijual hingga Rp 10 ribu lengkap dengan plastik dan beberapa asesoris sebagai bunga tangan. Padahal biasanya, harga bunga ini hanya sekitaran ratusan rupiah saja. Dalam hati, saya memanjatkan puja dan puji ke hadirat Tuhan yang telah memberikan manusia pikiran untuk membuat hari dimana penjual bunga merasakan panennya. Ya... Valentine Days adalah hari karangan manusia yang membutuhkan banyak bunga.
Hanya saja, dalam hati saya yang paling dalam juga memanjatkan doa agar tidak ada kematian di hari kasih sayang ini. Bukan apa-apa sih, hanya saya merasa kasihan dengan keluarga dan para kolega si yang meninggal tersebut. Kasihan karena keluarganya yang sedih dengan kematian tersebut akan tambahan anggaran yang cukup tinggi karena bunga MAWAR sedang MAHAL. Termasuk para kolega yang karena rasa dukanya akan mengirim karangan bunga –dengan bunga mawar-.
Karena itulah, saya juga berdoa agar tidak ada kematian di hari kasih sayang ini. Saya berharap di hari seperti ini, seisi dunia tetap merasakan kasih sayang tanpa ada rasa kehilangan keluarga, kerabat, kolega dan sahabatnya.
Walaupun jujur saja, melepas kematian keluarga, kerabat, kolega dan sahabat juga bisa jadi cara menunjukkan kasih sayang kita. SELAMAT HARI KASIH SAYANG. Sayang dan hormat saya untuk semua sahabat...
Ada kejadian pada hari Minggu, 8 Januari 2009 kemarin, yang membuat saya tertegun dan nyaris tak bernafas. Saya bertemu dengan teman semasa saya SMA. Saya di SMA dia di STM dan kami dekat karena kebetulan, dia kos di samping rumah saya. Kami tumbuh kembang bersama, lengkap dengan kenakalan ala remaja. Kami berpisah setelah lulus SMA tahun 1992. Jadi sudah 17 tahun kami berpisah, tanpa ada yang tahu kabar masing-masing.
Hari itu, kami kembali bertemu di rumahnya, di Jl. Jeruk III, Lakarsantri, SUrabaya. Tentu saja, Gunung Semeru tidak sebesar kerindungan kami untuk bertemu. Banyak cerita yang kami ulang untuk dikenang. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya terkesima dengan apa yang dilakukannya selama ini. Persahabatan kami benar-benar terpatri di dalam hidupnya.
Dia masih saja menyimpan foto kami saat dolan ke rumah gadis yang dia taksir di kawasan Malo, Tuban. Dia tunjukkan foto itu walaupun saya sudah tidak bisa melihat gambar itu secara jelas karena sudah dimakan kelembaban air.
Tidak itu saja, dia juga sempat membuat saya malu di depan Eka, wanita yang dinikahinya. Wanita yang baru sekali bertemu dengan saya itu sudah tahu kenakalan-kenakalan saya semasa SMA. Duh malunya.... Bagaimana mungkin orang yang baru ketemu saya sudah mengenal masa lalu saya. Termasuk beberapa kegilaan saya saat pacaran... Untungnya, saya berkulit gelap hingga rona merah karena malu, tidak tampak. Hehehe...
Yang lebih membuat saya sangat kaget dan tidak menduga adalah saat saya bertemu dengan anak pertamanya yang duduk di kelas 2 SD. Saya tidak kaget denganh kulitnya yang gelap karena bapaknya juga berkulit gelap. Yang membuat saya kaget adalah nama yang diberikan sahabat saya itu untuk bocah laki-laki. Mau tahu, namanya adalah NOOR ARIEF PRASETYO. Kalau anda mau tahu, nama saya adalah Noor Arief Prastyo. Cuma beda huruf e pada Prastyo. Cuma sekarang, saya lebih suka mengganti nama Prastyo dengan Kuswadi (nama alm ayah).
Saya bingung, harus tersanjung atau harus bagaimana. Beberapa saat saya terdiam karena tidak menyangka apa yang dia lakukan. “Aku gak peduli walau tidak bertemu denganmu lagi. Tapi aku sudah berjanji akan memberi nama anak lelakiku dengan namamu,” kata sahabat yang membuat mata saya berlinang air.
Kami ngobrol banyak tentang apa yang kami lakukan, sejak perpisahan kami. Perjalanannya yang menjadi tenaga kasar bangunan sampai dengan sekarang yang juga tidak jauh dengan pekerjaan kasar seperti itu. Saya juga menceritakan apa yang saya jalani sejak kuliah yang terbengkalai sampai dengan siapa wanita yang saya nikahi.
Menjelang saya pulang, saya hampir Arief kecil sambil membelai rambutnya. Dalam hati saya berdoa, semoga hidupmu baik-baik saja dan jalan kita semoga tidak sama. Karena jalan yang telah aku tempuh, cukup terjal... Amin...
Dilahirkan di Bojonegoro, Jawa Timur pada Februari 1974. Anak pertama dari 4 bersaudara ini dibesarkan keluarga sederhana ini sampai sekarang baru dua kali bekerja pada lembaga formal, Radio Wijaya Surabaya dan Harian Pagi Memorandum. Sebelumnya, menjadi tukang sablon, jasa pengetikan komputer sampai dengan menjadi buruh di toko bangunan sudah pernah dijalani. perjalanan panjang, walau tidak sepanjang orang-orang.