Hari ini, Senin tanggal 15 September 2008 adalah hari yang membuat saya terpukul. Selama 8 tahun menjadi wartawan kriminal, hampir semua kesadisan sudah terlihat mata dari mayat segar terpotong-potong sampai dengan yang sudah membusuk. Tapi kejadian hari ini berhasil menjebol keangkuhan saya dengan menundukkan kepala tanda duka. Kalau menangis, bagi saya masih najis. Ih....
Hari ini saya menundukkan kepala setelah melihat, mendengar berita tentang 21 nyawa yang mati terinjak-injak setelah antri uang zakat mal sebesar Rp 30 ribu per orang. Mereka berharap uang tersebut bisa menyenangkan mereka menyambut hari IDUL FITRI yang katanya disebut-sebut HARI KEMENANGAN. Kemenangan buat siapa?
Tapi bagi mereka, ribuan orang yang hari antri, jumlah itu sangat luar biasa. Mereka malah sampai harus menjual nyawanya demi mendapatkan uang sebesar itu. Mereka adalah rakyat yang selama ini dikatakan sebagai PEMILIK REPUBLIK ini. Masak??
Dan saya yakin banyak nyawa seharga dengan nyawa saya. Tidak percaya? Coba kabarkan kepada warga kalau anda akan membagi zakat masing-masing Rp 500 ribu. Saya jamin, jumlah yang datang akan jauh luar biasa jumlahnya.


